Cara Menentukan Konfigurasi Elektron Dan Elektron Valensi
Sejarah Konfigurasi Elektron
Pada awal abad 20, Ernest Rutherford, seorang fisikawan kelahiran Selandia
baru bekerja sama dengan J.J Thomson untuk meneliti tentang atom. Ernest rutherford
berhasil menemukan adanya inti (nukleus) di dalam atom dan ia menemukan
sebentuk awan difus elektron yang bermuatan negatif mengelilingi inti yang
bermuatan positif (proton). Ernest rutherford pun menerapkan sistem tata surya
pada atom dengan elektron-elektron mengorbit pada sebuah inti.
Namun, hukum mekanika klasik (Newtonian) memprediksi bahwa elektron akan
melepas radiasi elektromagnetik saat sedang mengorbit inti dan pada pelepasan
tersebut elektron akan kehilangan energi, hingga lambat-laun akan jatuh menuju
inti.
Ketika akhir abad 19 ditemukan bahwa loncatan bunga api listrik saat
berada dalam tabung hampa dengan tekanan gas yang rendah dapat mebuat atom-atom
memancarkan cahaya dalam frekuensi tetap yang tidak saling berhubungan
(diskrit/diskret). Cahaya tersebut sebagai bentuk radiasi elektromagnetik.
Radiasi elektromagnetik adalah kombinasi medan listrik dan medan magnet
yang berosilasi (bergetar) dan merambat melalui ruang dan membawa energi dari
satu tempat ke tempat lain.
Model Bohr
Untuk mengatasi kesulitan dan menjelaskan pergerakan elektron dalam satu
atom, Niels Bohr mengusulkan model Bohr yang menyatakan :
- Elektron-elektron tidak akan kehilangan energi secara perlahan-lahan
atau tetap stabil sebagaimana mereka bergerak dalam orbit yang tidak meluruh
(jatuh karena sudah sampai waktunya).
- Elektron-elektron bergerak dalam orbit-orbit yang memiliki energi dengan
nilai tertentu (terkuantisasi). Hal ini berarti hanya beberapa orbit spesifik
yang mungkin berada pada jarak yang spesifik dari inti.
Model Bohr sukses
menjelaskan formula Rydberg (
). Formula Ryberg merupakan konstanta fisika mengenai
garis-garis emisi spektral/spektra/spektrum dari atom hidrogen.
Garis spektrum
dihasilkan dari interaksi satu sistem mekanika kuantum dan satu foton tunggal.
Garis spektrum adalah garis-garis gelap/terang yang terdapat pada suatu
spektrum (rentetan warna kontinu yang diperoleh apabila cahaya diuraikan) yang
dapat menyebabkan kekurangan atau kelebihan foton dalam satu rentang frekuensi yang
sempit.
Foton adalah
partikel elementer yang membawa radiasi elektromagnetik, seperti cahaya,
gelombang radio dan sinar-X. Apabila satu foton memiliki jumlah energi yang
dapat menimbulkan perubahan elektron pada orbital untuk satu atom, maka foton
akan diserap lalu dipancarkan kembali secara spontan dengan frekuensi yang
sama.
En =
(-13,6 eV) 1/n2 atau En = - 13,6/ n2 eV
En
adalah energi elektron pada satu lintasan tertentu. Apabila n semakin besar,
maka tingkat energi akan semakin besar. Jika n= ∞ (tak
hingga), maka En = 0
yang berarti elektron tidak lagi terikat pada inti/elektron bebas.
Tingkat energi
elektron yang terendah disebut energi dasar (keadaan dasar), yaitu n=1. Jika n
= 2, 3 dan seterusnya, maka dinyatakan sebagai energi yang lebih tinggi dan
disebut tingkat eksitasi. Energi yang diperlukan untuk melepas elektron dari
intinya disebut energi ionisasi.
Cara menghitung
energi elektron berdasakan model Bohr, yaitu
Jika n sama
dengan 2, maka 13,6 dibagi 22 (dua pangkat dua sama dengan 4), jadi n
=2 adalah -3,4 eV. eV dibaca elektronvolt.
Kelemahan model
Bohr, yaitu :
- Lintasan orbit
elektron sebenarnya sangat rumit, tidak hanya berbentuk lingkaran atau elips.
- Model Bohr
hanya dapat menjelaskan secara akurat untuk atom hidrogen, sedangkan atom-atom
berelektron banyak tidak bisa dijelaskan.
- Model Bohr
tidak dapat menjelaskan tentang terjadinya efek Zeeman, yaitu terpecahnya
spektrum cahaya jika dilewatkan pada medan magnet yang kuat.
- Model Bohr
tidak dapat menjelaskan terjadinya ikatan kimia dengan baik.
Mekanika
Kuantum
Erwin Schrodinger (fisikawan asal Austria) mengusulkan teori mekanika
kuantum yang menggantikan hukum mekanika klasik. Erwin Schrodinger menyatakan
bahwa hukum mekanika klasik tidak berlaku pada gerak elektron di sekitar inti. Dalam
mekanika kuantum dinyatakan bahwa gerakan elektron saat mengelilingi inti
bersifat seperti gelombang.
Erwin Shcrodinger bersama Werner Heisenberg (fisikawan asal Jerman)
memberikan dua point penting mengenai pergerakan elektron, yaitu :
- Ketika sebuah elektron meloncat dari satu orbit ke orbit lainnya,
perbedaan energi dibawa oleh sebuah kuantum tunggal cahaya (foton) yang
memiliki energi yang sama dengan perbedaan energi antara kedua orbit.
- Orbit-orbit tertentu bergantung pada harga-harga terkuantisasi yang
tidak saling berhubungan dari momentum sudut orbital (bilangan kuantum
azimut/anguler). Momentum sudut adalah momentum yang dimiliki benda-benda yang
melakukan gerak rotasi.
Sekali elektron berada pada suatu orbit, ia tidak akan
mungkin menjadi lebih dekat ke proton (inti).
Dengan rumus persamaan atau perbandingan :
L = n. h= n . h/2π
Keterangan :
L
= Momentum sudut
n
= Bilangan kuantum utama, yaitu 1,2,3 dan seterusnya.
Bilangan kuantum menyatakan kulit atom
h = Konstanta Planck
2π= Nilai radian (satuan sudut) satu lingkaran penuh,
yaitu 360o.
Sedangkan, jika
setengah lingkaran bernilai
rad, yaitu 180 o. Satu rad adalah
besarnya sudut yang dibentuk oleh dua buah jari-jari lingkaran/radius (r). Satu
rad sama dengan 57,2958o. Harga terendah n adalah 1 dan radius terkecil adalah
0,0529 nm. Radius ini dikenal sebagai radius Bohr.
Jika
adalah 1, maka elektron berada pada kelopak K.
Jika n adalah 2, maka elektron berada pada kelopak L dan seterusnya.
Konstanta Planck menjelaskan
ukuran quanta. Ukuran quanta berhubungan dengan frekuensi gelombang cahaya.
Menurut Max Planck, cahaya tampak aneh karena pada saat yang sama bersifat
sebagai gelombang dan partikel.
Dengan kata lain,
atom terdiri dari partikel-partikel yang merupakan gabungan dari energi quanta
yang mana terdiri dari energi-energi getaran.
Jenis bilangan
kuantum lainnya, yaitu :
- Bilangan
kuantum azimut (ℓ) menyatakan posisi elektron dalam orbital.
- Bilangan
kuantum magnetik (m) menyatakan orientasi orbital dalam ruang tiga dimensi.
- Bilangan
kuantum spin (ms) menyatakan rotasi elektron pada sebuah atom.
Bilangan Kuantum Azimut
Bilangan kuantum
azimut disebut juga bilangan kuantum anguler. Bilangan kuantum azimut
memerankan momentum sudut orbital. Momentum sudut orbital menggambarkan energi
sebuah elektron yang berhubungan dengan gerakan orbital. Bilangan kuantum
azimut berhubungan dengan jumlah subkelopak. Subkelopak dinyatakan dengan huruf
s, p ,d dan f.
Dulu, sebelum
ditetapkan oleh IUPAC penulisan s, p, d dan f ditulis miring. Huruf s, p ,d dan
f disebut juga sebagai label orbital. Huruf s berarti sharp, huruf p berarti
principal, huruf d berarti diffuse dan huruf f berarti fundamental.
Nilai bilangan
kuantum azimut bergantung pada nilai bilangan kuantum utama. Jika bilangan
kuantum utama adalah 1, maka bilangan kuantum azimut berjumlah 1, yaitu 0
karena n-1=1-1=0. Angka 0
merupakan bilangan kuantum azimut terendah.
Jika nilai n = 2, maka terdapat dua nilai ℓ,
yaitu 0 dan 1. Jika nilai n = 3, maka terdapat tiga nilai ℓ,
yaitu 0, 1 dan 2. Jika nilai n = 4, maka terdapat empat nilai ℓ,
yaitu 0, 1, 2 dan 3.
Dari empat
kondisi di atas didapatkan bahwa :
- Jika ℓ
= 0, maka terdapat sebuah orbital s.
- Jika ℓ = 1, maka
terdapat sebuah orbital p.
- Jika ℓ = 2, maka
terdapat sebuah orbital d.
- Jika ℓ = 3, maka
terdapat sebuah orbital f.
- Jika ℓ = 4, maka
terdapat sebuah orbital g.
- Jika ℓ = 5, maka
terdapat sebuah orbital h.
- Jika ℓ = 6, maka
terdapat sebuah orbital i.
Sehingga,
dinyatakan pada kelopak/kulit K terdapat subkelopak/subkulit s. Pada kelopak L
terdapat subkelopak s dan p karena kelopak L bergantung pada n = 2, yang memiliki dua nilai ℓ.
Untuk orbital g, h dan i sering tidak ditulis.
Masing-masing
subkelopak dapat diisi dengan 2(2 ℓ+1)
elektron, sehingga
- Subkelopak s
dapat menampung 2 elektron
- Subkelopak p
dapat menampung 6 elektron
- Subkelopak d
dapat menampung 10 elektron
- Subkelopak f
dapat menampung 14 elektron
Bilangan
Kuantum Magnetik
Bilangan
kuantum magnetik membagi subkulit menjadi orbital-orbital dan menentukan arah
dari momentum sudut elektron. Nilai m dapat berkisar dari -ℓ sampai
+ ℓ, termasuk nol. Setiap nilai ℓ bertambah, maka nilai m pada sisi kiri
(negatif) dan sisi kanan (positif) bertambah sesuai nilai ℓ.
Jika ℓ sama
dengan 0, maka m sama dengan 0. Jika ℓ sama dengan 1,
maka m sama dengan -1,0,+1. Jika ℓ sama dengan 2, maka m
sama dengan -2,-1,0,+1,+2.
Bilangan Kuantum Spin
Rotasi elektron dapat
bergerak searah atau berlawanan dengan arah jarum jam, sehingga dinyatakan s=
+1/2 atau s=-1/2. Tanda positif mengartikan arah yang berlawanan dengan jarum
jam (ke atas), sedangkan tanda minus mengartikan arah yang searah dengan jarum
jam (ke bawah). Peluang elektron mengarah ke atas maupun ke bawah adalah sama
50 %.
Untuk rumus jumlah maksimum
elektron pada tiap orbital adalah 2 x n2. Dengan rumus tersebut,
maka dinyatakan sebagai berikut :
Kulit K (n=1), maka jumlah
maksimum elektron adalah 2 x 12 = 2 elektron.
Kulit L (n =2), maka jumlah
maksimum elektron adalah 2 x 22 = 8 elektron.
Kulit M(n =3), maka jumlah
maksimum elektron adalah 2 x 32 = 18 elektron.
Kulit N
(n=4),
maka jumlah maksimum elektron adalah 2 x 42 = 32 elektron.
Kulit O (n=5), maka jumlah
maksimum elektron adalah 2 x 52 = 50 elektron.
Kulit P (n=6), maka jumlah
maksimum elektron adalah 2 x 62 = 72 elektron.
Kulit Q (n=7), maka jumlah
maksimum elektron adalah 2 x 72 = 98 elektron.
Jumlah maksimum elektron yang
dapat ditampung setiap kelopak dan subkelopak berasal dari persamaan mekanika
kuantum terutama asas larangan Pauli. Meskipun kulit O, P dan Q dapat menampung
lebih dari 32 elektron, tetapi ketiga kulit tersebut tidak pernah terisi penuh.
Asas
Aufbau
Asas
Aufbau berperan penting dalam konfigurasi elektron awal model Bohr. Konfigurasi elektron adalah susunan
elektron-elektron pada sebuah atom. Asas Aufbau berbunyi elektron yang
mengorbit satu atau lebih atom mengisi tingkat energi terendah yang tersedia lebih
dulu sebelum mengisi tingkat yang lebih tinggi. Asas Aufbau akurat untuk 18
unsur pertama dalam tabel periodik.
Meskipun asas Aufbau menjelaskan demikian, kenyataannya terdapat elektron
yang sudah melompat ke orbital yang lebih tinggi walaupun orbital sebelumnya
belum terisi penuh.
Kaidah Madelung
Kaidah Madelung menjadi bentuk modern dari asas Aufbau. Kaidah Madelung diperkenalkan
oleh Erwin Madelung yang berasal dari Jerman. Besarnya tingkat orbital tergantung nilai
dan ℓ,
maka dalam kaidah Madelung orbital diisi dengan urutan
peningkatan
+ ℓ.
Apabila terdapat dua orbital dengan nilai
+ ℓ yang sama, maka orbital yang lebih
dulu diisi adalah orbital dengan nilai
yang lebih rendah. Apabila orbital
+ ℓ
lebih besar, maka memiliki energi lebih besar.
Urutan
pengisian orbital berdasarkan kaidah Madelung adalah
1s
2s 2p 3s 3p 4s 3d 4p 5s 4d
5p 6s 4f 5d 6p 7s 5f 6d 7p
Asas Larangan Pauli
Asas larangan Pauli menyatakan tidak
boleh ada elektron yang memiliki keempat bilangan kuantum yang sama dalam satu
atom. Setiap orbital diisi oleh 2 elektron yang memiliki spin berlawanan, yaitu
ke atas dan ke bawah.
Kaidah Hund
Kaidah hund
mengemukakan aturan pengisian elektron pada orbital, yaitu
“
Orbital-orbital dengan energi yang sama, masing-masing diisi lebih dulu oleh
satu elektron dengan arah rotasi yang sama ” atau “ Setelah semua orbital
masing-masing terisi dengan satu elektron, elektron kemudian akan memasuki
orbital-orbital secara urut dengan arah rotasi berlawanan ”.
Diagram orbital dilambangkan dengan
kotak. Maka, setiap kotak terdapat tanda panah ke atas dan ke bawah.
|
n
|
Kelopak
|
ℓ
|
Subkelopak
|
M
|
Jumlah Subkelopak
|
Jumlah Orbital
|
Jumlah Elektron
|
|
1
|
K
|
0
|
s
|
0
|
1
|
1
|
2
|
|
2
|
L
|
0
|
s
|
0
|
1
|
4
|
8
|
|
1
|
p
|
-1,0,+1
|
3
|
||||
|
3
|
M
|
0
|
s
|
0
|
1
|
9
|
18
|
|
1
|
p
|
-1,0,+1
|
3
|
||||
|
2
|
d
|
-2,-1,0,+1,+2
|
5
|
||||
|
4
|
N
|
0
|
s
|
0
|
1
|
16
|
32
|
|
1
|
p
|
-1,0,+1
|
3
|
||||
|
2
|
d
|
-2,-1,0,+1,+2
|
5
|
||||
|
3
|
f
|
-3,-2,-1,0,+1,+2,+3
|
7
|
|
Nomor Atom
|
Simbol
|
Nama
|
Konfigurasi Elektron
|
Jumlah Lintasan
|
|
|
1
|
H
|
Hidrogen
|
1
|
1
|
|
|
2
|
He
|
Helium
|
2
|
2
|
|
|
3
|
Li
|
Litium
|
2
1
|
2
|
|
|
4
|
Be
|
Berilium
|
2
2
|
2
|
|
|
5
|
B
|
Boron
|
2
3
|
2
|
|
|
6
|
C
|
Karbon
|
2
4
|
2
|
|
|
7
|
N
|
Nitrogen
|
2
5
|
2
|
|
|
8
|
O
|
Oksigen
|
2
6
|
2
|
|
|
9
|
F
|
Fluor
|
2
7
|
2
|
|
|
10
|
Ne
|
Neon
|
2
8
|
2
|
|
|
11
|
Na
|
Natrium
|
2
8 1
|
3
|
|
|
12
|
Mg
|
Magnesium
|
2
8 2
|
3
|
|
|
13
|
Al
|
Alumunium
|
2
8 3
|
3
|
|
|
14
|
Si
|
Silikon
|
2
8 4
|
3
|
|
|
15
|
P
|
Fosfor
|
2
8 5
|
3
|
|
|
16
|
S
|
Belerang
|
2
8 6
|
3
|
|
|
17
|
Cl
|
Klor
|
2
8 7
|
3
|
|
|
18
|
Ar
|
Argon
|
2
8 8
|
3
|
|
|
19
|
K
|
Kalium
|
2
8 8 1
|
4
|
|
|
20
|
Ca
|
Kalsium
|
2
8 8 2
|
4
|
|
|
21
|
Sc
|
Skandium
|
2
8 9 2
|
4
|
|
|
22
|
Ti
|
Titanium
|
2
8 10 2
|
4
|
|
|
23
|
V
|
Vanadium
|
2
8 11 2
|
4
|
|
|
24
|
Cr
|
Kromium
|
2
8 12 2
|
4
|
|
|
25
|
Mn
|
Mangan
|
2
8 13 2
|
4
|
|
|
26
|
Fe
|
Besi
|
2
8 14 2
|
4
|
|
|
27
|
Co
|
Kobalt
|
2
8 15 2
|
4
|
|
|
28
|
Ni
|
Nikel
|
2
8 16 2
|
4
|
|
|
29
|
Cu
|
Tembaga
|
2
8 17 2
|
4
|
|
|
30
|
Zn
|
Seng
|
2
8 18 2
|
4
|
|
|
31
|
Ga
|
Gallium
|
2
8 18 3
|
4
|
|
|
32
|
Ge
|
Germanium
|
2
8 18 4
|
4
|
|
|
33
|
As
|
Arsen
|
2
8 18 5
|
4
|
|
|
34
|
Se
|
Selenium
|
2
8 18 6
|
4
|
|
|
35
|
Br
|
Brom
|
2
8 18 7
|
4
|
|
|
36
|
Kr
|
Kripton
|
2
8 18 8
|
4
|
|
|
37
|
Rb
|
Rubidium
|
2
8 18 8 1
|
5
|
|
|
38
|
Sr
|
Strontium
|
2
8 18 8 2
|
5
|
|
|
39
|
Y
|
Itrium
|
2
8 18 9 2
|
5
|
|
|
40
|
Zr
|
Zirkonium
|
2
8 18 10 2
|
5
|
|
|
41
|
Nb
|
Niobium
|
2
8 18 11 2
|
5
|
|
|
42
|
Mo
|
Molibdenum
|
2
8 18 12 2
|
5
|
|
|
43
|
Tc
|
Teknetium
|
2
8 18 13 2
|
5
|
|
|
44
|
Ru
|
Ruthenium
|
2
8 18 14 2
|
5
|
|
|
45
|
Rh
|
Rodium
|
2
8 18 15 2
|
5
|
|
|
46
|
Pd
|
Paladium
|
2
8 18 16 2
|
5
|
|
|
47
|
Ag
|
Perak
|
2
8 18 17 2
|
5
|
|
|
48
|
Cd
|
Kadmium
|
2
8 18 18 2
|
5
|
|
|
49
|
In
|
Indium
|
2
8 18 18 3
|
5
|
|
|
50
|
Sn
|
Timah
|
2
8 18 18 4
|
5
|
|
|
51
|
Sb
|
Antimon
|
2
8 18 18 5
|
5
|
|
|
52
|
Te
|
Telurium
|
2
8 18 18 6
|
5
|
|
|
53
|
I
|
Yodium
|
2
8 18 18 7
|
5
|
|
|
54
|
Xe
|
Xenon
|
2
8 18 18 8
|
5
|
|
|
55
|
Cs
|
Sesium
|
2
8 18 18 8 1
|
6
|
Berikut ini ketentuan untuk
memudahkan menentukan konfigurasi elektron :
- Jika sisa elektron kurang dari 32,
maka kulit berikutnya diisi dengan 18 elektron
- Jika sisa elektron kurang dari 18,
maka kulit berikutnya diisi dengan 8 elektron
- Jika sisa elektron kurang dari 8,
maka kulit berikutnya diisi dengan jumlah sisa elektron tersebut
Contoh
1:
Konfigurasi elektron dari unsur
Radium (Ra) dengan nomor atom 88. Kulit yang telah terisi penuh adalah K = 2, L
= 8, M = 18, N = 32, sehingga jumlah elektron yang telah terdistribusi adalah
2+8+18+32 = 60. Selisih dari jumlah elektron yang telah terdistribusi
berdasarkan nomor atom unsur Radium adalah 88 – 60 = 28.
Karena sisa elektron kurang dari 32,
maka kulit O diisi dengan 18 elektron, kulit P diisi dengan 8 dan kulit Q diisi
dengan 2. Jadi, konfigurasi elektron unsur Radium adalah 2, 8, 18, 32, 18, 8,
2.
Contoh 2 :
Konfigurasi elektron dari unsur
Barium (Ba) dengan nomor atom 56. Kulit yang telah terisi penuh adalah K = 2, L
= 8, M = 18, sehingga jumlah elektron yang telah terdistribusi adalah 28.
Selisih dari jumlah elektron yang telah terdistribusi berdasarkan nomor atom
unsur Barium adalah 56-28 = 28.
Karena sisa elektron kurang dari 32,
maka kulit N diisi dengan 18 elektron, kulit O diisi dengan 8 dan kulit P diisi
dengan 2. Jadi, konfigurasi elektron unsur Barium adalah 2, 8, 18, 18, 8, 2.
Elektron
Valensi
Jumlah elektron valensi unsur
ditentukan berdasarkan jumlah elektron pada kulit terakhir dari konfigurasi
elektron. Jumlah elektron valensi menentukan sifat suatu unsur. Maka, unsur
yang memiliki jumlah elektron valensi yang sama, maka memiliki sifat kimia yang
sama.
Berdasarkan tabel di atas, jumlah
elektron valensi unsur Litium adalah 1. Jumlah elektron valensi unsur Seng
adalah 2.
Bentuk konfigurasi elektron yang
lebih lengkap dengan subkelopaknya adalah berdasarkan dari asas Aufbau dan
kaidah Madelung.
Contoh 1:
Unsur fosfor dengan nomor atom 15.
Memiliki konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6 3s2
3p3.
Seperti penjelasan sebelumnya
pengisian konfigurasi elektron subkelopak adalah berdasarkan jumlah maksimum
elektron yang dapat ditampung pada subkelopak tersebut. Jumlah elektron yang
tersisa ditulis pada subkelopak terakhir yang mana pada fosfor adalah 3
elektron.
Karena urutan awal konfigurasi
elektron dari unsur fosfor memiliki kesamaan dengan unsur neon dengan nomor
atom 10 dan konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6,
maka penulisan konfigurasi elektron unsur fosfor dipersingkat menjadi [Ne] 3s2
3p3.
Contoh 2 :
Unsur tembaga dengan nomor atom 29.
Memiliki konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6 3s2
3p6 4s2 3d9. Karena urutan awal konfigurasi
elektron dari unsur tembaga memilki kesamaan dengan unsur argon, maka
konfigurasi elektron unsur tembaga dipersingkat menjadi [Ar] 4s2 3d9.
Namun, karena kenyataannya terkadang terdapat elektron yang sudah melompat
ke orbital yang lebih tinggi walaupun orbital sebelumnya belum terisi penuh.
Dan pada dasarnya 3d memiliki energi mirip dengan 4s dan lebih tinggi daripada
3s atau 3p, maka elektron melompat ke orbital 3d. Sehingga konfigurasi elektron
unsur tembaga menjadi [Ar] 3d10 4s1.
Dan dengan itu ditetapkan, tembaga memiliki 11 elektron valensi yang
mungkin berada di luar inti Argon.
Periode Dan
Golongan Unsur
Penetapan periode suatu unsur
bergantung dari jumlah kulit yang terisi elektron, sedangkan penetapan golongan
suatu unsur bergantung dari jumlah elektron valensinya.
Contoh :
26Fe
= 2, 8, 8, 8
Maka, unsur Fe (besi) berasal dari
periode 4 dan golongan VIII A. Huruf A menyatakan bahwa unsur besi termasuk
jenis golongan utama.
Komentar
Posting Komentar