Ginjal Pada Manusia (Struktur, Mekanisme Dan Fungsi)
Setiap
manusia memiliki dua buah ginjal yang masing-masing dibungkus oleh kapsula
fibrosa yang terdiri atas dua lapisan lemak, yaitu lemak perirenal dan lemak
pararenal. Kedua lapisan lemak tersebut membantu meredam goncangan pada ginjal.
Jika
lemak yang membungkus ginjal terlalu banyak akan menghambat kerja ginjal dan
menyebabkan penyakit, seperti batu ginjal, infeksi ginjal, gagal ginjal, radang ginjal, radang
kandung kemih dan sindrom nefrotik (gangguan ginjal yang menyebabkan tubuh
kehilangan terlalu banyak protein karena ikut terbuang bersama urine).
Letak
ginjal kanan sedikit lebih rendah daripada ginjal kiri. Ginjal manusia
berbentuk seperti kacang yang terletak di kedua sisi columna vertebralis (penyusun
rangka axial yang utama yang terdiri dari tulang vertebrata dengan lima regio,
yaitu vertebra cervicalis, vertebra thoracalis, vertebra lumbalis, tulang
sakral dan tulang koksigeus).
enal.
Jika
terjadi kerusakan pada salah satu ginjal atau hanya memiliki satu ginjal, maka
ginjal yang lain akan bekerja lebih keras, sehingga akan menyebabkan hipertrofi
(peningkatan volume organ atau jaringan akibat pembesaran komponen
sel).
Ginjal
dipersarafi oleh nervus vasomotor yang berfungsi mengatur jumlah darah yang
masuk ke dalam ginjal.
Struktur Ginjal
Ginjal
terbagi menjadi tiga bagian, yaitu korteks (bagian luar), medulla (bagian
tengah) dan pelvis (bagian dalam).
-
Korteks Ginjal (Korteks Renalis)
Di
dalam korteks ginjal terdapat medulla ginjal yang mengandung jutaan nefron.
Nefron terdiri dari badan Malpighi. Nefron adalah unit yang memegang seluruh
fungsi ginjal.
Nefron
terbagi dua, yaitu :
a.
Nefron kortikalis adalah nefron dengan glomerulus yang terletak di dalam
korteks ginjal dan memiliki lengkung Henle yang pendek. Jumlah nefron
kortikalis lebih banyak daripada nefron juxtamedullaris.
b.
Nefron juxtamedullaris adalah nefron dengan glomerulus yang terletak dekat medulla
ginjal dan memiliki lengkung Henle yang panjang.
Ginjal
tidak dapat membentuk nefron baru. Bila terjadi kerusakan pada salah satu
nefron karena trauma ginjal/penyakit ginjal, jumlah nefron akan menurun
kira-kira 10% setiap 10 tahun. Berkurangnya jumlah nefron tidak membahayakan
karena perubahan adaptasi pada nefron yang tersisa menyebabkan nefron tersebut
dapat mengeluarkan air, elektrolit dan zat sisa makanan dalam jumlah yang
tepat.
-
Medulla Ginjal (Medulla Renalis)
Medulla
ginjal terletak dekat hilus dan terlihat seperti garis-garis putih. Medulla
ginjal (sumsum ginjal) terdiri dari 10-18 subdivisi berbentuk kerucut, seperti
piramida. Piramida pada ginjal disebut piramida Malpighi. Piramida Malpighi
terdiri dari tubulus kolektivus dan nefron (bagian atas/pinggir) yang tersusun
secara paralel. Medulla ginjal berfungsi sebagai pengumpul urine karena
terdapat tubulus kolektivus.
Hilus
ginjal merupakan lengkungan di dekat pusat ginjal yang cekung. Hilus ginjal berfungsi
sebagai jalur masuknya pembuluh darah, pembuluh limfa dan saraf.
Bagian
dasar piramida Malpighi luas dan menghadap korteks ginjal. Bagian ujungnya/atasnya
disebut papila dan menghadap ke arah panggul secara internal. Pada ujung
(apeks) papila terdapat 10-12 lubang muara dari tubulus kolektivus yang
membentuk area cribrosa. Papila setiap piramida Malpighi membentuk papilaris
Bellini, yaitu persatuan terminal dari tubulus kolektivus.
Di
setiap sela antara dua piramida Malpighi terdapat jaringan yang merupakan
tempat masuknya cabang-cabang arteri terbesar (aorta abdominalis) yang disebut
arteri interlobar. Bagian ini disebut kolumna Bellini. Jika salah satu arteri
interlobar tersumbat akan terjadi kerusakan pada piramida Malpighi. Arteri
interlobar membawa darah yang kaya oksigen dengan tekanan tinggi untuk menuju
glomerulus.
Keterangan
: Aorta abdominalis menerima darah yang kaya oksigen dari aorta descendens.
-
Pelvis Ginjal (Pelvis Renalis)
Pelvis
ginjal disebut juga piala ginjal. Pelvis ginjal berbentuk corong. Beberapa
kaliks minor bersatu membentuk kaliks mayor. Beberapa kaliks mayor bersatu
membentuk pelvis ginjal. Kaliks mayor berjumlah 2-3 buah, sedangkan kaliks
minor berjumlah 8-14 buah.
Kaliks
pada ginjal berfungsi untuk mengumpulkan urine sebelum melewati saluran kemih,
mengatur sistem biliverdin (pigmen kehijauan yang dibentuk melalui oksidasi
bilirubin) dan bilirubin (sel darah merah yang rusak dan berwarna hijau
kebiruan), serta mengeluarkan zat amonia pada urine yang telah dikumpulkan.
Pelvis
merupakan tempat penampungan urine sementara. Jika pelvis telah terisi penuh,
urine akan turun menuju ureter lalu ke kandung kemih. Jika kandung kemih telah
terisi penuh, urat saraf tulang belakang akan mengirim sinyal menuju otak untuk
memberi informasi “buang air kecil”. Dan otot dasar panggul (muskulus levator
ani) akan berkontraksi untuk mengosongkan kandung kemih.
Urine yang
dikeluarkan adalah cairan yang mengandung zat-zat toksik (zat yang bila
terdapat dalam tubuh dalam jumlah yang cukup dan konsisten akan menyebabkan
gangguan pada fungsi tubuh), seperti kreatinin (produk limbah yang terkandung
dalam darah), ureum (hasil akhir metabolisme protein), asam urat dan hasil
metabolisme lainnya. Warna kuning pada urine dihasilkan dari hasil metabolik
zat warna empedu.
Pelvis ginjal
tidak sama dengan diafragma pelvis dan pelvis (panggul) yang tampak dari luar
tubuh manusia.
Mekanisme Kerja Ginjal Manusia
Proses Pembentukan
Urine
Pada
badan Malpighi yang terletak pada bagian korteks ginjal terjadi proses pembentukan
urine. Badan Malpighi tersusun atas :
a.
Kapsula Bowman
Kapsula
Bowman adalah bagian berbentuk seperti mangkuk yang membungkus glomerulus.
b.
Glomerulus
Glomerulus
adalah jaringan berkas kapiler atau simpul pembuluh darah berukuran sangat kecil
yang terletak pada bagian depan nefron ginjal. Glomerulus mendapat suplai darah
dari arteri aferen. Darah yang membawa sisa-sisa hasil metabolisme tubuh yang
berasal dari arteri aferen akan disaring oleh glomerulus dengan melewati
membran filtrasi (membran penyaringan), yaitu celah podocytes/podosit pada
kapsula Bowman. Darah yang besar, seperti plasma dan protein/albumin tidak
dapat tersaring oleh celah podosit.
Hasil
penyaringan akan terbentuk urine primer yang mengandung zat-zat berupa protein,
natrium, kalium, kalsium, klor, garam, urea, glukosa dan air. Zat-zat tersebut
dapat tersaring karena adanya mengembang dan mengempis pada arteri aferen.
Lalu, dikeluarkan melalui arteri eferen dan masuk ke kapsula Bowman.
Selain
berfungsi untuk menyaring darah, glomerulus juga berfungsi untuk mengatur
tekanan dan volume darah karena adanya sel juxtaglomerular dan menetralisir
racun dalam darah.
Darah
yang telah disaring dari glomerulus dan lengkung Henle masuk ke vena
Interlobular.
c.
Tubulus Kontortus Proksimal
Tubulus
kontortus proksimal adalah saluran yang menuju ke segmen tipis dari lengkung
Henle. Pada tubulus kontortus proksimal terjadi penyerapan urine primer yang
dilakukan oleh sel-sel epitel dalam tubulus kontortus proksimal.
d.
Tubulus Kontortus Descendens
Tubulus
kontortus descendens saluran yang menerima sisa penyerapan urine primer.
Tubulus kontortus descendens terletak antara tubulus kontortus proksimal dan pars
descendes lengkung Henle.
e.
Lengkung Henle
Lengkung
Henle adalah yang melengkung berbentuk U yang terdiri dari pars descendens dan
pars ascendens. Pars descendens adalah bagian menurun yang keluar dari korteks
menuju medulla. Pars ascendens adalah bagian yang kembali ke korteks ginjal.
Dinding
bagian bawah lengkung Henle sangat tipis (segmen tipis), sedangkan dinding
bagian atas lebih tebal (segmen tebal). Lengkung Henle merupakan penghubung
antara tubulus kontortus proksimal dan tubulus kontortus distal.
f.
Tubulus Kontortus Ascendens
Tubulus
kontortus ascendens adalah saluran yang menerima hasil penyaringan cairan dari
lengkung Henle. Pada tubulus ascendens, garam akan dipompa keluar, sehingga
urine menjadi lebih pekat dan menghasilkan urine sekunder yang mengandung kadar
urea yang tinggi.
g.
Tubulus Kontortus Distal
Tubulus
kontortus distal adalah saluran yang berhubungan dengan tubulus kontortus
proksimal dan tubulus kolektivus. Pada tubulus kontortus distal terbentuk ureum
dan bilirubin. Dan pada tubulus kontortus distal terjadi proses augmentasi
(pengeluaran), yaitu melepaskan zat sisa yang tidak berguna lagi dan menyerap
kelebihan air, sehingga terbentuk urine sesungguhnya yang mengandung urea,
amonia, sisa-sisa metabolisme protein dan zat-zat racun yang berlebihan dalam
darah, seperti sisa obat-obatan, hormon, garam mineral dan lain-lain.
h.
Tubulus Kolektivus
Tubulus
kolektivus disebut juga tubulus koligens. Tubulus kolektivus adalah saluran
yang lebih sempit yang menampung urine sesungguhnya untuk dibawa ke pelvis
ginjal. Tubulus kolektivus disebut juga saluran pengumpul. Tubulus kolektivus
bukan termasuk ke dalam nefron atau badan Malpighi, tetapi tetap merupakan
bagian dari medulla ginjal.
Sejumlah
tubulus kolektivus bergabung membentuk tubulus kolektivus lurus yang lebih
besar yang disebut tubulus papilaris. Tubulus papilaris bermuara pada kaliks
minor (kelopak kecil).
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Produksi Urine
- Adanya hormon antidiuretic (ADH) yang
mempermudah penyerapan air pada tubulus kontortus distal menuju tubulus kolektivus.
Jika kadar hormon antidiuretic tinggi, maka penyerapan air akan tinggi,
sehingga urine yang dihasilkan menjadi lebih pekat dan sedikit. Jika kadar
hormon antidiuretic rendah, maka penyerapan air akan rendah, sehingga urine
yang dihasilkan lebih encer dan banyak.
Alkohol dan kafein dapat mempengaruhi kadar
hormon antidiuretic menjadi rendah/ terhambat pembentukannya.
- Jumlah air yang diminum. Jika tubuh
mengonsumsi banyak air, maka urine yang dihasilkan juga akan banyak.
- Jumlah konsentrasi hormon insulin. Jika kadar
hormon insulin sedikit akan mengakibatkan kadar glukosa meningkat. Kadar
glukosa yang tinggi akan mengganggu proses penyerapan pada tubulus kontortus
distal, sehingga tubuh akan sering berkemih. Jika hal ini terjadi terus-menerus
akan menyebabkan kerusakan pada fungsi ginjal atau gagal ginjal. Terjadinya
gagal ginjal akan menyebabkan partikel yang masih diperlukan oleh tubuh yang
terkandung di dalam darah akan ikut terbuang bersama urine.
- Penyempitan pada arteri eferen akan
menyebabkan aliran darah yang menuju glomerulus menjadi berkurang, sehingga
proses penyaringan akan kurang efektif dan jumlah urine yang dihasilkan akan
sedikit.
- Stres dapat mendorong keinginan untuk buang
air kecil. Hal ini menyebabkan meningkatnya tekanan darah dan pada kandung
kemih, sehingga darah yang mengalir ke dalam ginjal menjadi meningkat.
- Suhu udara yang panas akan menyebabkan tubuh
banyak mengeluarkan keringat, konsentrasi air dalam darah menjadi turun, kadar hormon
antidiuretic menjadi meningkat, sehingga urine yang dihasilkan menjadi sedikit.
Jika suhu udara dingin, konsentrasi air dalam
darah menjadi naik dan kadar hormon antidiuretic sedikit, sehingga urine yang
dihasilkan menjadi banyak.
Kelebihan protein dan minuman bersoda dapat menimbulkan masalah pada kandung kemih. Kandung kemih yang terlalu banyak mengandung protein, garam dan endapan mineral berisiko terbentuknya batu ginjal. Jika tubuh kelebihan protein dan mengalami dehidrasi, limbah mineral akan mengkristal dan sulit untuk dikeluarkan melalui urine.
Vaskularisasi Ginjal
Arteri
ginjal (arteri renalis) adalah pembuluh yang membawa darah ke dalam ginjal
untuk disaring oleh glomerulus. Arteri renalis yang masuk ke dalam hilus akan
bercabang membentuk arteri interlobar. Arteri interlobar berjalan di antara
piramida Malpighi dan membentuk arteri arkuata. Arteri arkuata membentuk
arteriola interlobular yang tersusun secara paralel di dalam korteks ginjal.
Arteriola interlobar membentuk arteri aferen di dalam glomerulus.
Glomeruli
(sekelompok kecil pembuluh darah yang mengelilingi ginjal atau disebut juga penyaring kecil dalam ginjal) bersatu membentuk arteriola aferen yang bercabang membentuk kapiler
peritubular yang mengelilingi tubulus-tubulus ginjal. Darah yang telah disaring
masuk ke dalam vena interlobularis, lalu ke vena arkuata, kemudian ke vena
interlobar dan masuk ke vena renalis. Dari vena renalis, darah masuk ke vena
cava inferior untuk menuju jantung. Pada jantung darah akan diolah, hingga
kembali menjadi darah yang kaya oksigen.
Fungsi Ginjal
- Menjaga
keseimbangan cairan tubuh.
-
Menghilangkan limbah hasil metabolisme tubuh.
- Mengontrol
produksi sel darah merah dengan mengeluarkan hormon eritropoietin.
- Membantu
merangsang vitamin D.
- Menjaga
tekanan darah dan volume darah.
- Menyaring
darah dari zat hasil metabolisme tubuh.
- Menjaga
keseimbangan asam dan basa.
- Menghasilkan
hormon eritropoetin dan renin.
- Menghasilkan
kalsitriol (vitamin D3) yang berfungsi mengatur keseimbangan kalsium dan hormon
prostaglandin dalam tubuh.
- Meregulasi
elektrolit dan glukoneogenesis (hasil sintesis glukosa dari senyawa bukan
karbohidrat, seperti asam laktat dan beberapa asam amino).
- Menjaga
tekanan osmolaritas (jumlah molekul yang dilarutkan dalam cairan).
Komentar
Posting Komentar