Ragam Frasa Dalam Bahasa Indonesia
Frasa adalah rangkaian dua atau lebih kata yang bersifat nonpredikatif (tidak memiliki objek). Frasa dapat digunakan untuk membentuk kalimat kompleks. Setiap frasa memiliki unsur inti dan atribut. Untuk mengetahui unsur inti dan atribut sebuah frasa dapat menggunakan pola Diterangkan (D) dan Menerangkan (M). Unsur inti merupakan kata yang Diterangkan dan atribut merupakan kata yang Menerangkan.
Dalam sintaksis, unsur penyusun kalimat, terdiri dari :
- Subjek (S) adalah seseorang atau sesuatu yang melakukan kegiatan.
- Predikat (P) adalah pekerjaan/kegiatan yang dikenakan kepada subjek. Umumnya, unsur predikat berasal dari kelas kata kerja (verbia/verbal). Tetapi, kata sifat juga dapat menjadi predikat jika terletak setelah subjek dan berfungsi untuk menjelaskan sifat atau karakteristik subjek tersebut.
Baju itu bagus.
Anak itu pintar.
Mangga ini manis.
Kayu ini lapuk.
- Objek (O) adalah seseorang atau sesuatu yang dikenai kegiatan.
- Pelengkap (Pel) adalah kata yang melengkapi objek atau predikat jika tidak ada objek.
- Keterangan (K) adalah keterangan waktu, tempat, frekuensi atau cara untuk melakukan kegiatan.
Sintaksis adalah ilmu mengenai peraturan dan prinsip untuk membuat struktur kalimat dalam bahasa apapun.
Unsur objek dan pelengkap sulit dibedakan. Kita akan mengetahui suatu kalimat mengandung pelengkap atau objek adalah dengan mengubah kalimat tersebut menjadi bentuk pasif. Objek dapat dijadikan subjek, sedangkan pelengkap tidak bisa.
Contoh :
Kalimat aktif = Dia mengatakan kebohongan.
Kalimat pasif = Kebohongan dikatakan dia. (tidak tepat)
Pelengkap yang terletak setelah objek biasanya berupa kata sifat.
Contoh :
Dia mendorong mobil yang mogok. (kata mogok adalah pelengkap)
Dia membeli sepatu baru. (kata baru adalah pelengkap)
Frasa terbagi menjadi lima kelas berdasarkan hubungan antar unsurnya :
a. Frasa Koordinatif (Frasa Setara) adalah frasa yang memiliki unsur penyusun yang sama.
Frasa koordinatif dapat disertai atau disisipkan dengan konjungsi koordinatif. Adapun macam-macam konjungsi koordinatif, antara lain dan, atau, tetapi, namun, padahal, serta dan sedangkan. Tetapi, konjungsi yang paling sering digunakan untuk frasa koordinatif adalah dan dan atau.
Frasa subordinatif terbagi menjadi dua jenis berdasarkan unsur predikatnya, yaitu frasa subordinatif predikatif dan frasa subordinatif nonpredikatif.
Atribut terbagi menjadi dua jenis :
- Atribut rangkap serial adalah atribut yang setiap bagiannya tersusun secara koordinatif atau dapat dihubungkan dengan konjungsi koordinatif.
- Atribut rangkap terkandung adalah atribut-atribut yang tergantung satu sama lain. Unsur-unsur penyusunnya dapat berasal dari kelas kata yang sama atau berbeda.
Atribut disebut juga pewatas atau pembatas. Frasa subordinatif disebut juga frasa atributif atau frasa modifikatif.
Gunung meletus (nomina + verba)
Penutupan sidang (nomina + nomina)
Hak cipta (nomina + nomina)
Belajar menghitung (verba + verba)
Bau busuk (nomina + adjektiva)
Pada frasa mobil tetangga, kata mobil merupakan unsur inti. Dari unsur inti "mobil" dapat disertai atribut dari berbagai kelas kata.
Contoh :
Mobil + tetangga (atribut nomina)
baru (atribut adjektiva)
saya (atribut pronomina)
berhenti (atribut verba)
Aposisi adalah frasa yang berfungsi menerangkan subjek atau objek. Apositif biasanya ditandai dengan tanda koma di akhir kata yang ingin dijelaskan atau diterangkan.
d. Frasa Ambigu adalah frasa yang unsur penyusunnya bermakna ganda. Biasanya frasa yang bermakna kepemilikan atau sesuatu yang dipakai.
Contoh :
- Sepatu teman baru
Makna yang dapat ditumbulkan : Teman memiliki sepatu baru atau sepatu milik teman yang baru dikenal.
- Masker wajah
Makna yang dapat ditimbulkan : Masker bergambar wajah atau masker untuk perawatan kulit wajah.
- Baju Ibu
Makna yang dapat ditumbulkan : Baju milik Ibu atau baju buatan Ibu.
- Besok lusa
Makna yang dapat ditumbulkan : Lusa, yaitu dua hari ke depan setelah hari ini atau menyatakan pilihan antara besok atau lusa.
e. Frasa Idiomatik adalah frasa yang memiliki perubahan makna pada unsur
intinya meskipun diikuti dengan pewatas atau pembatas sebagai unsur atributnya.
Frasa idiomatik disebut juga kata majemuk.
Contoh :
Tangan besi
Kembang desa
Bintang jatuh
Besar kepala
Kaki tangan
Dewi malam
Raja siang
Asam garam
Frasa terbagi menjadi dua jenis berdasarkan fungsi komponen penyusunnya :
a. Frasa Eksosentrik adalah frasa yang tidak memiliki kesamaan kedudukan antar unsur-unsur penyusunnya. Karena itu, frasa eksosentrik tidak memiliki unsur inti.
Frasa eksosentrik yang memiliki perangkai disebut frasa eksosentrik direktif.
Perangkai dapat berupa preposisional (kata depan). Preposisional terdiri dari di, ke, dengan, pada, dari, untuk, oleh dan lain-lain. Tentang preposisi lebih lanjut terdapat dalam artikel Pronomina, Preposisional dan Konjungsi
Frasa eksosentrik yang memiliki artikulasi/artikula/kata sandang disebut frasa eksosentrik nondirektif. Artikula terdiri dari si, sang, para, yang, kaum dan lain-lain.
Contoh :
Di laut
Ke kantor
Pada temannya
Sang bintang
Si pemberani
Kaum wanita
Yang meleleh
Seluruh frasa di atas tidak memiliki unsur inti.
b. Frasa
Endosentrik adalah frasa yang memiliki kesamaan kedudukan antara unsur-unsur
penyusunnya.
1. Frasa Endosentrik Atributif adalah frasa yang disusun oleh unsur-unsur yang tidak setara. Dengan kata lain, frasa ini memiliki unsur yang "diterangkan" dan unsur yang "menerangkan".
Bubur ayam
Batu beton
Angin darat
Arah selatan
Sekolah dasar
Uang tunai
Saudara kandung
Selembar daun
Sebuah buku
Sepasang sepatu
Seekor tupai
Seorang penyair
Kantor pemasaran
Kata selembar, sebuah, seekor dan lain-lain termasuk unsur inti atau induk penggolong. Kata-kata yang dicetak tebal merupakan atribut.
2. Frasa Endosentrik Koordinatif adalah frasa yang semua unsurnya merupakan unsur inti. Selain itu, frasa ini dapat disisipkan kata "dan" atau "atau" di antara unsur-unsur penyusunnya.
Contoh :
Ayah ibu
Tinggi rendah
Panjang pendek
Sendok garpu
Besar kecil
Hilang timbul bukan termasuk frasa karena kedua kata tersebut berasal dari kelas kata kerja.
Frasa-frasa di atas sering kita ucapan tanpa menggunakan kata "atau" atau "dan", tapi pada dasarnya frasa-frasa tersebut bisa disisipkan kedua konjungsi tersebut.
3. Frasa Endosentrik Apositif adalah frasa yang semua unsur pembentuknya merupakan unsur pusat yang menunjuk pada hal yang sama. Dengan kata lain, apabila unsur inti dihilangkan, orang tetap akan mengerti apa atau siapa yang sedang dimaksud atau dibicarakan.
Contoh :
- Amanda Rawles, pemain utama dalam film Dear Nathan memulai kariernya
sejak tahun 2012.
- Deddy Corbuzier , host talkshow Hitam Putih dulunya seorang magician.
- Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, film yang diadaptasi dari novel menceritakan
tentang realita kehidupan keluarga.
Kata-kata yang dicetak miring merupakan aposisi. Ketiga contoh di atas merupakan frasa nomina apositif.
Frasa terbagi menjadi 10 kelas berdasarkan kategori unsur intinya, yaitu :
1. Frasa Kata Benda (Nomina) adalah frasa yang memiliki unsur inti berupa kata benda. Nomina dapat diikuti dengan klausa relatif.
Contoh :
Rumah yang terbakar itu
Baju yang kotor itu
Penyanyi yang tampil di konser kemarin
Mobil mogok tidak bisa disebut
frasa. Tetapi, lebih tepat disebut klausa.
Kata mobil bisa menjadi subjek. Sementara kata mogok berasal kelas kata verba.
Karena itu, jika dihubungkan dengan subjek, kata mogok dapat menjadi predikat.
Frasa tidak bisa disebut kalimat, tetapi bisa membentuk suatu kalimat. Klausa dapat disebut kalimat dan dapat membentuk kalimat majemuk, kalimat kompleks, kalimat simpleks dan lain-lain.
Nama orang termasuk kata benda. Kata kerja dan kata sifat juga dapat menjadi kata benda.
Contoh :
Kerja ⟶ Pekerjaan
Sehat ⟶ Kesehatan
Umum ⟶ Pengumuman
Pikir / Pikiran
Kamu bisa mengecek kelas kata melalui kamus online agar tidak mengalami kesalahan dalam membentuk frasa. Ada banyak kamus online yang tersedia.
Frasa nomina terbagi menjadi tiga jenis, yaitu :
Contoh :
Ilmu Matematika
Rambut keriting
Gambar karikatur
Hari Senin
Obat flu
Lapangan basket
Bawah laut
Teman sekelas
Warga setempat
Gudang kosong
Mobil kuno
Gumpalan kertas
Pinggir jalan
Depan rumah
Tumpahan air
Mainan canggih
Baju merah
Teh manis
Tongkat besi
Mesin cuci
Rumah makan
Ruang tunggu
Buku saya
Kata-kata yang dicetak tebal merupakan atribut.
Frasa nomina atributif dapat disertai penyambung atau perangkai yang menghubungkan antara unsur inti (antesenden) dan atributnya. Penyambung atau perangkai yang digunakan biasanya berupa kata "Yang".
Atributif yang menyertai kata benda (unsur inti) dapat berupa kata berimbuhan.
Contoh :
Siswa terpandai
Sekolah kejuruan
Dinas kesehatan
Buku pelajaran
Kursus menulis
Berikut ini hierarki penyambungan :
1. Frasa dengan atribut anaforis,
deiktis, interogatif dan pembilang
2. Frasa dengan atribut relatif
3. Frasa dengan atribut adverbial
4. Frasa dengan atribut adjektival, verbal
5. Frasa dengan atribut non-nominal rangkap serial
6. Frasa dengan atribut non-nominal rangkap terkandung
7. Frasa nominal tanpa induk
Hierarki adalah urutan tingkatan atau jenjang jabatan (pangkat kedudukan).
Semakin tinggi tingkat frasa dalam hierarki penyambungan, maka semakin rapat penyambungan antara induk dan atribut, sehingga perangkai dipakai hanya secara opsional saja (tidak wajib).
Semakin rendah tingkat frasa dalam hierarki penyambungan, maka semakin tidak rapat penyambungan antara induk dan atribut, sehingga perangkai sangat diperlukan (wajib).
Contoh :
1. Anak yang disiplin. (perangkai
wajib digunakan)
2. Mobil yang baru. (perangkai tidak wajib digunakan)
Contoh kedua perangkai tidak wajib digunakan karena frasa tersebut juga dapat ditulis tanpa kata yang, yaitu mobil baru.
b. Frasa Nomina Koordinatif adalah frasa yang disusun oleh dua nomina yang dapat dihubungkan dengan kata "dan" atau "atau".
Kakak adik
Sendok garpu
Baju celana
Dunia akhirat
Lahir batin
Sandang pangan
c. Frasa Nomina Apositif adalah frasa yang memiliki kata benda yang menjadi keterangan atau penjelas kata sebelumnya.
Contoh :
Bhineka tunggal ika, semboyan negara Indonesia....
Surabaya, kota Pahlawan....
Burj Khalifa, menara tertinggi di dunia....
Bika Ambon, kue khas Medan....
Komodo, hewan langka di Indonesia....
2. Frasa Kata Kerja (Verba) adalah frasa yang memiliki unsur inti berupa kata kerja yang berimbuhan (afiks verba). Selain itu, frasa verba dapat diawali dengan kata menjadi.
Frasa verba terbagi menjadi tiga jenis, yaitu :
a. Frasa Verba Atributif adalah frasa yang memiliki unsur inti berupa kata kerja dan unsur atribut sebagai pewatas/pembatas.
Atribut
dapat berupa :
- Verba bantu : Akan, harus, dapat, bisa, boleh, suka, ingin dan mau.
- Partikel : Sudah, telah, sedang, tengah, dan lagi.
- Pengingkar : Tidak dan belum.
Harus menyelesaikan
Sedang menonton
Lagi menyapu
Sudah makan
Tengah berbincang
Atributif juga dapat berasal dari kelas kata lain.
Contoh :
Terpaksa berbohong (verba + verba)
Sengaja mengganggu (verba + verba)
Belajar menghitung (verba + verba)
Selalu mengalah (adjektiva + verba)
Pasti menang (adjektiva + verba)
Membayar hutang (verba + nomina)
Menulis surat (verba + nomina)
Frasa atributif dapat disusun oleh dua verba intransitif (kata kerja yang tidak memerlukan objek) atau satu verba intransitif sebagai atribut.
Verba intransitif tidak dapat diubah menjadi bentuk pasif. Umumnya, verba intransitif berimbuhan ber-, ber-kan, ter- dan ke-an.
Berlari menyeberangi
Bangkit berdiri
Duduk membelakangi
Memanjat tebing
Mendaki gunung
b. Frasa Verba Koordinatif adalah frasa yang disusun oleh dua verba yang dapat dihubungkan dengan kata "dan" atau "atau".
Contoh :
Pulang pergi
Keluar masuk
Meram melek
Jatuh bangun
Hilang timbul
Digoreng atau direbus
Di rumah atau di jalan
Menunggu atau bertindak
Melukis atau menggambar
c. Frasa Verba Apositif adalah frasa yang memiliki kata kerja yang menjadi keterangan atau penjelas kata sebelumnya.
Contoh :
- Pekerjaan Pak Doni, mengajar di SMA sudah sejak 10 tahun yang lalu.
- Hobby Rani, menggambar pakaian wanita telah mengantarkannya menjadi seorang desainer muda.
- Usaha Pak Iwan, berdagang makanan khas Palembang dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari.
- Dia bertugas sebagai panitia, mengurus perlengkapan acara yang akan diadakan minggu depan.
3. Frasa Kata Sifat (Adjektiva) adalah frasa yang memiliki unsur inti berupa kata sifat. Unsur intinya dapat ditambahkan imbuhan ter-. Selain itu, frasa adjektiva dapat diawali dengan kata "sangat" atau "paling".
Secara semantik, adjektiva terbagi menjadi dua jenis, yaitu :
- Adjektiva Bertaraf : Kata sifat yang mengungkapkan kualitas, seperti pemeri sifat (menggambarkan kualitas dan intensitas dari segi fisik dan sifat), ukuran, bentuk, warna, waktu, jarak, sikap batin dan cerapan (sesuatu yang diterima oleh panca indera).
- Adjektiva Tidak Bertaraf : Kata sifat yang mengungkapkan keanggotaan dalam suatu golongan.
Adjektiva terdiri dari dua transposisi, yaitu :
- Adjektiva
Deverbal : Kata sifat yang mendapat imbuhan meng-, meng-kan, ter- dan ber-.
- Adjektiva Denominal : Kata sifat yang mendapat imbuhan.
a. Frasa Adjektiva Atributif : Frasa yang memiliki unsur inti berupa kata sifat yang dibatasi dan unsur atribut sebagai pewatas/pembatas.
Atribut frasa terdiri atas beberapa tingkatan, yaitu :
- Atribut
frasa adjektiva tingkat intensif : Benar, betul dan sungguh.
- Atribut frasa adjektiva tingkat elatif : Sangat, amat dan sekali.
- Atribut frasa adjektiva tingkat eksesif : Terlalu, terlampau, kelewat dan
kata sifat berimbuhan ke-an yang mengalami reduplikasi.
- Atribut frasa adjektiva tingkat augmentatif : Semakin dan makin.
- Atribut frasa adjektiva tingkat atenuatif : Agak, cukup, lumayan dan sedikit.
- Atribut frasa adjektiva tingkat komparatif : Lebih dan daripada.
- Atribut frasa adjektiva tingkat superlatif : Paling dan kata sifat berimbuhan
ter-.
- Atribut frasa adjektiva tingkat ekuatif : Kata berimbuhan se- dan sama +
adjektiva + -nya + dengan.
Beberapa pengecualian imbuhan se- pada kata sifat yang tidak termasuk kelas kata sifat, seperti :
- Selebar
termasuk kata kerja.
- Sepanjang termasuk kata benda.
- Setinggi termasuk kata benda.
- Serendah termasuk kata benda.
Contoh :
Ramai sekali
Amat tenang
Sangat antusias
Paling mahal
Lumayan besar
Cukup sibuk
Mulai matang
Lebih tua
Sangat lezat
Agak panik
Sedikit sulit
Gaya termodern
Semanis gula
Hati-hati dalam membedakan kata kerja dan kata sifat berimbuhan ter-, seperti kata terpesona, terkejut, terkenal dan lain-lain, bukan termasuk kata sifat, melainkan kata kerja.
b. Frasa Adjektiva Koordinatif adalah frasa yang disusun oleh dua adjektiva yang dapat dihubungkan dengan kata "dan" atau "atau".
Contoh :
Tua muda
Besar kecil
Tinggi rendah
Susah senang
Riang gembira
Jauh dekat
Pahit manis
c. Frasa Adjektiva Apositif adalah frasa yang memiliki kata sifat yang menjadi keterangan atau penjelas kata sebelumnya.
Contoh :
- Furniture di rumah tua itu, mulai usang karena termakan zaman.
- Cokelat yang dibawa oleh sepupuku, rasanya pahit.
4. Frasa Kata Keterangan (Adverbia) adalah frasa yang memiliki unsur inti berupa kata keterangan.
Adverbia terbagi menjadi dua jenis berdasarkan morfemnya, yaitu :
- Monomorfemis adalah adverbia yang terdiri atas satu morfem, seperti sangat, kurang, hampir, pernah dan lain-lain.
- Polimorfemis adalah adverbia yang terdiri atas dua atau lebih morfem.
Adverbia polimorfemis dapat dibentuk dengan cara sebagai berikut :
Namun, tidak semua kata dasar dapat direduplikasi tanpa imbuhan dan tidak semua pengulangan kata dasar termasuk adverbia, seperti samar-samar, benar-benar termasuk adjektiva.
- Mengulang
kata dasar dan menambahkan akhiran -an pada pengulangan kata dasar.
Contoh : Habis-habisan
Tidak semua kata dasar berimbuhan -an termasuk adverbia, seperti besar-besaran, kecil-kecilan termasuk adjektiva.
- Mengulang kata dasar dan menambahkan awalan se- pada kata dasar pertama.
Contoh : Setinggi-tinggi
- Menambahkan akhiran -nya pada kata dasar.
Contoh : Biasanya, rupanya, rasanya, agaknya dan lain-lain.
- Menambahkan imbuhan se-nya.
Contoh : Selekasnya, secepatnya, seperlunya, sebaiknya, sesungguhnya, secukupnya, seadanya, sebenarnya dan lain-lain.
Kata lekas sebagai kata dasar termasuk kata yang berasal dari kelas adverbia.
Kata dasar dapat berupa kata sifat, kata benda atau kata keterangan.
Adverbia terbagi menjadi 8 jenis, yaitu :
a. Adverbia Kualitatif adalah kata keterangan yang menyatakan tingkat, derajat dan mutu, seperti paling, sangat, kurang, hampir, terlampau dan terlalu.
b. Adverbia Kuantitatif adalah kata keterangan yang menyatakan jumlah, seperti banyak, sedikit, cukup dan kira-kira.
c. Adverbia Limitatif adalah kata keterangan yang menyatakan batasan dari suatu hal/peristiwa, seperti hanya, sampai, saja dan sekadar.
d. Adverbia Frekuentatif adalah kata keterangan yang menyatakan tingkat kekerapan terjadinya suatu hal/peristiwa, seperti selalu, sering, jarang, semakin dan kadang-kadang.
e. Adverbia Kontrastif adalah kata keterangan yang menyatakan pertentangan terhadap suatu hal/peristiwa yang dinyatakan sebelumnya, seperti bahkan, malahan dan justru.
f. Adverbia Kewaktuan adalah kata keterangan yang menyatakan waktu terjadinya suatu hal/peristiwa, seperti baru dan segera.
g. Adverbia Kecaraan adalah kata keterangan yang menyatakan cara suatu hal/peristiwa dapat terjadi, seperti diam-diam, pelan-pelan, secepatnya,
h. Adverbia Keniscayaan adalah kata keterangan yang menyatakan kepastian suatu hal/peristiwa yang terjadi, seperti niscaya, pasti dan tentu.
Frasa adverbia terbagi menjadi dua jenis, yaitu :
a. Frasa Adverbia Atributif adalah frasa yang memiliki unsur inti berupa adverbia yang dibatasi dan unsur atribut sebagai pewatas/pembatas.
Contoh :
Kurang dari
Setelah makan
Perlu membaca
Sebelum mandi
Sudah kenyang
Pernah bangkrut
Itu rayap bukan semut
Sangat maju
Hampir patah
Terlalu manis
Hanya mencegah
Tanpa mengobati
Terlampau menyayangi
Semakin tinggi
Kata-kata yang dicetak miring merupakan unsur inti, yaitu adverbia.
Kata pagi, siang, sore, malam berasal dari kelas kata benda. Jadi, jika frasa ditulis "pagi itu" atau "tadi malam", termasuk frasa nomina.
b. Frasa Adverbia Koordinatif adalah frasa yang disusun oleh kata keterangan dan atribut yang tidak saling menerangkan.
Contoh :
Lebih kurang
5. Frasa Adposisional adalah frasa yang memiliki unsur inti berupa kata depan atau partikel.
Frasa adposisional dapat menjadi atribut suatu unsur inti.
Frasa preposisional terbagi menjadi dua jenis, yaitu :
a. Frasa Preposisional Atributif adalah frasa yang memiliki unsur inti berupa preposisi yang dibatasi dan unsur atribut sebagai pewatas/pembatas.
Contoh :
Di rumah
Dari kantor
Oleh pembaca
Pada Pak Guru
Ke Bandung
Dengan hati-hati
Menuju bandara
Untuk mereka
Tentang persahabatan
Terhadap saudara kita
Kata jika dan kalau termasuk partikel yang juga berfungsi sebagai konjungsi.
b. Frasa Preposisional Koordinatif adalah frasa yang disusun oleh dua preposisi yang tidak saling menerangkan. Preposisi dapat dihubungkan dengan kata "dan" atau "atau".
Contoh :
Sistem pemerintahan di Indonesia diselenggarakan dari, oleh dan untuk
rakyat.
a. Frasa Posposisional Atributif adalah frasa yang memiliki unsur inti berupa posposisi yang dibatasi dan unsur atribut sebagai pewatas/pembatas.
Contoh :
Rumah di seberang
Orang di depannya
Vas bunga di atas meja
b. Frasa Posposisional Koordinatif adalah frasa yang disusun oleh dua posposisi yang dapat dihubungkan dengan kata "dan" atau "atau".
Contoh :
Rumahnya memiliki pekarangan di depan dan di belakang.
6. Frasa Bilangan (Numeralia) adalah frasa yang memiliki unsur inti berupa kata bilangan.
Numeralia terbagi menjadi dua jenis, yaitu :
Numeralia takrif terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
- Numeralia cardinal, seperti bilangan penuh/angka, bilangan pecahan, bilangan gugus.
Bilangan gugus adalah bilangan yang berbentuk kelompok, seperti sepasang (2), selusin (12 buah), sewindu (8 tahun), selustrum (5 tahun), seabad (100 tahun), selikur (21), telulikur (23), papatlikur (24), sekodi (20 buah) dan lain-lain.
- Numeralia tingkat, seperti kedua, ketiga, keempat dan seterusnya.
- Numeralia kolektif adalah numeralia tingkat yang bergabung dengan bilangan, seperti kedua orang itu, ketiga kucing itu dan lain-lain.
b. Numeralia Tak Takrif adalah numeralia yang menyatakan jumlah tak tentu, seperti beberapa, berbagai, pelbagai, segenap, sekalian, semua, seluruh, segala, setiap, sebagian dan lain-lain.
Frasa numeralia terbagi menjadi dua jenis, yaitu :
a. Frasa Numeralia Atributif adalah frasa yang memiliki unsur inti berupa numeralia yang dibatasi dan atribut sebagai pewatas/pembatas.
Contoh :
Tiga orang artis
Dua kali lipat
Sembilan bulan
Lima kelompok
Sepuluh tusuk sate
Beberapa lembar uang
Seluruh kelas tiga SMA
Lima buah apel
Tiga buah mobil
Kata-kata yang dicetak tebal termasuk unsur atribut.
b. Frasa Numeralia Koordinatif adalah frasa yang disusun oleh dua numeralia yang dapat dihubungkan dengan kata "dan" atau "atau".
Contoh :
Jadi, hal ini yang pertama atau kedua kalinya kamu alami?
Ada tiga atau empat orang sudah tiba di lokasi lebih dulu.
7. Frasa Kata Ganti (Pronomina) adalah frasa yang memiliki unsur inti berupa kata ganti.
Frasa pronomina terbagi menjadi tiga jenis, yaitu :
a. Frasa Pronomina Atributif adalah frasa yang memiliki unsur inti berupa pronomina yang dibatasi dan atribut sebagai pewatas/pembatas. Atribut yang biasanya digunakan, antara lain sekalian, semua, berdua, bertiga, bersama dan lain-lain.
Contoh :
Kita bersama
Mereka semua
Kita berdua
Anda sekalian
b. Frasa Pronomina Koordinatif adalah frasa yang disusun oleh dua pronomina yang dihubungkan dengan kata "dan" atau "atau".
Contoh :
Aku dan kamu
Dia atau kamu
Kita atau mereka
c. Frasa Pronomina Apositif adalah frasa yang memiliki pronomina yang menjadi keterangan atau penjelas kata sebelumnya.
Contoh :
Kami pemuda-pemudi
Kami putra-putri
Mereka bapak-ibu
8. Frasa Kata Tanya (Interogativa) adalah frasa yang memiliki unsur inti berupa kata tanya.
Frasa interogativa terbagi menjadi dua jenis, yaitu :
a. Frasa Interogativa Atributif adalah frasa yang memiliki unsur inti berupa kata tanya yang dibatasi dan atribut sebagai pewatas/pembatas.
Contoh :
Berapa banyak
Kapan pulang
Ditaruh di mana
Mau yang mana
Datang dari mana
b. Frasa Interogativa Koordinatif adalah frasa yang disusun oleh dua kata tanya yang dapat dihubungkan dengan kata "dan" atau "atau".
Contoh :
Aku tidak tahu mengapa dan bagaimana kecelakaan itu bisa menimpanya.
Kapan dan di mana acara reuni sekolah diadakan akan diinformasikan secepatnya.
9. Frasa Kata Penghubung (Konjungsi) adalah frasa yang memiliki unsur inti berupa konjungsi.
Contoh :
Tanpa keterangan
Agar sehat
Supaya kuat
Jika lolos
Kalau sakit
Karena kamu
Bila hujan
10. Frasa Kata Penunjuk (Demonstrativa) adalah frasa yang memiliki unsur inti berupa kata penunjuk. Dengan kata lain, frasa ini berfungsi untuk menunjukkan suatu pilihan.
Frasa demonstrativa terbagi menjadi dua jenis, yaitu :
b. Frasa Demonstrativa Koordinatif adalah frasa yang disusun oleh dua kata penunjuk yang dihubungkan dengan kata "atau".
Contoh :
Di sana atau di sini
Ini atau itu
Komentar
Posting Komentar