Teori Pergeseran Catford Dalam Proses Penerjemahan

Catford, J.C (1965) mengatakan bahwa penerjemahan adalah "the replacement of textual material in one language by equivalent textual material in another language". Menurut Catford, penerjemahan biasa tidak mengalihkan seluruh textual material ke dalam bahasa target, seperti sintaksis dan leksikon tidak dialihkan dengan mencari padanan katanya, melainkan hanya dalam bentuk transference. Catford juga menegaskan bahwa equivalence (kesepadanan) merupakan kunci dalam penerjemahan. 
Untuk mencapai kesepadan biasanya terjadi pergeseran  kata-kata.

Berdasarkan luasnya (extent), Catford membagi teori penerjemahan menjadi dua macam, yaitu:

• Full Translation

Penerjemahan di mana seluruh teks sumber dialihbahasakan ke bahasa target.

• Partial Translation 

Penerjemahan yang hanya menerjemahkan beberapa bagian teks sumber ke bahasa target.

Berdasarkan level, Catford membagi teori penerjemahan menjadi dua macam, yaitu:

• Total Translation

Penerjemahan yang menerjemahkan seluruh level dari teks sumber.

• Restricted Translation

Penerjemahan yang mengganti materi tekstual bahasa sumber yang memiliki kesamaan sebuah level (fonologi, grafologi, gramatikal dan leksikal) dengan bahasa target. 

Berdasarkan kesepadanan (ekuivalensi), Catford membagi teori penerjemahan menjadi dua macam, yaitu:

• Rank-Bound Translation

Penerjemahan yang terbatas atau terikat pada satu tingkat antara teks sumber dan teks target, seperti penerjemahan antar kata yang sama, antar morpheme yang sama, dan lain-lain.

• Unbounded Translation

Penerjemahan yang tidak terikat dengan tingkat kesepadanan tertentu, sehingga kita boleh menambahkan level lain dalam kalimat untuk mencapai kesepadanan.
Catford (1974) mengemukakan dua macam pergeseran yang terjadi dalam proses penerjemahan, yaitu level shift dan category shift. 

a. Level Shift (Pergeseran Tataran)

Pergeseran yang terjadi dalam menerjemahkan suatu tataran (fonologi, grafologi, gramatikal dan leksikal) dari bahasa sumber ke tataran bahasa target. Level shift terjadi akibat unsur linguistik (unsur kebahasaan) bahasa sumber memiliki level padanan yang berbeda dengan bahasa target. Contohnya, padanan gramatikal menjadi padanan leksikal.

Padanan leksikal adalah padanan yang bersifat tetap dan tertulis dalam kamus. Sedangkan padanan gramatikal adalah padanan yang dapat berubah sesuai dengan proses penggabungan satuan lingual atau proses gramatikal. Contohnya, kata "makan" memiliki makna leksikal menurut KBBI, yaitu memasukkan makanan pokok ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya. Apabila kata "makan" digabungkan dengan kata lain atau mendapat imbuhan, maka makna yang dihasilkan dari penggabungan tersebut disebut makna gramatikal, contohnya makan hati memiliki makna bersusah hati, bersedih hati, kecewa atau menderita. Makna tersebut tidak sesuai dengan makna kata "makan" sebenarnya yang tercantum dalam kamus.

Jadi, contoh level shift adalah sebagai berikut:

1. He has gone.
    Dia sudah pergi.

Kata "has" memiliki makna leksikal "memiliki". Kata ini digunakan secara gramatikal menjadi auxilary verbs untuk present perfect tense. Dalam kalimat, kata "has" diterjemahkan ke "sudah", yang memiliki maknanya sendiri. Maka, terjadi pergeseran makna leksikal ke makna gramatikal dalam kalimat ini.

2. She is angry.
    Dia sedang marah.

Kata "is" memiliki makna leksikal "adalah". Kata ini digunakan secara gramatikal menjadi "to be" yang dapat diikuti oleh adjective atau verb -ing (present participle). Kata "is" diterjemahkan ke "sedang". Maka, terjadi pergeseran makna leksikal ke makna gramatikal dalam kalimat ini.

3. There were a silence.
    Ada keheningan.

Kata "were" adalah bentuk lampau dari kata "are" yang memiliki makna leksikal "adalah". Sementara kata "there" memiliki makna leksikal "di sana". Kata "there" diikuti "to be" diterjemahkan menjadi "ada". Ini adalah contoh pergeseran makna gramatikal ke makna leksikal.
Frasa "there were" juga dapat diterjemahkan ke "kami" atau "mereka" tergantung konteks kalimatnya. Jika diterjemahkan menjadi pronoun "kami" atau "mereka", maka juga terjadi pergeseran makna gramatikal ke makna leksikal.

b. Category Shift (Pergeseran Kategori)

Category shift terbagi menjadi empat macam, yaitu:

1) Structure Shift (Pergeseran Struktur)

Pergeseran struktur gramatikal kalimat atau urutan kata saat diterjemahkan ke bahasa target. Perubahan kalimat aktif ke kalimat pasif tidak termasuk pergeseran struktur karena struktur kalimat tetap SVO (Subject Verb Object).

Contoh:
1. Here the letter broke off.
    Surat itu berhenti sampai di situ.

Kata keterangan dalam teks sumber diletakkan di awal kalimat, sedangkan dalam teks target, kata keterangan di letakkan di akhir kalimat. Ini menunjukkan adanya pergeseran struktur gramatikal.

2. So far the honours lay with Superintendent Battle.
    Sampai saat itu Inspektur Battle selalu menang.

Dalam kalimat terjadi pergeseran struktur gramatikal karena kata "honours" sebagai subjek diterjemahkan menjadi kata "menang" sebagai predikat. Teks sumber (bahasa Inggris) tidak memiliki predikat.

3. New study book for my sister.
    Buku baru untuk belajar adikku.

Pada teks sumber (bahasa Inggris) setelah preposition adalah object, sedangkan pada teks target (bahasa Indonesia) setelah preposition adalah verb. Kedua kalimat ini mengandung makna yang sama, meskipun berbeda struktur gramatikal.

2) Class Shift (Pergeseran Kelas)

Pergeseran kelas kata saat diterjemahkan ke bahasa target.

Contoh:
1. So far the honours  lay with Superintendent Battle.
    Sampai saat itu Inspektur Battle selalu menang.

Ini adalah contoh yang sama dengan yang telah disebutkan sebelumnya. Dalam kalimat ini juga terjadi pergeseran kelas kata, di mana kata "honours" sebagai noun diterjemahkan ke "menang" sebagai verb.

2. She found the descent very easy.
    Dia turun dengan mudah.

Kata "descent" yang merupakan noun diterjemahkan ke kata kerja "turun". Terjemahan ini menunjukkan pergeseran kelas kata.

3. He experienced that sense of complete trust in Mr. Bateman's efficiency. 
    Dia merasa bisa mempercayai Tuan Bateman yang efisien itu.

Kalimat ini mengalami dua pergeseran kelas kata dalam proses penerjemahan, yaitu:
- pergeseran kata benda "sense of complete trust" ke kata kerja "memercayai".
- pergeseran kata benda "efficiency" ke kata sifat "yang efisien".

3) Unit Shift (Pergeseran Unit)

Pergeseran tingkatan atau unit bahasa, seperti dari kata ke frasa, dari frasa ke kata, dari kata ke klausa atau dari frasa ke klausa.

Contoh:
1. That amiable youth, Jimmy Thesiger, came racing down the big staircase at Chimneys two steps at a time. 
    Jimmy thesiger, si anak muda yang ramah itu menuruni tangga besar Chimneys-dua anak tangga sekali langkah. 

Dalam kalimat tersebut terdapat beberapa perubahan unit bahasa, seperti kata "youth" diterjemahkan ke frasa "anak muda", frasa "came racing down" diterjemahkan ke kata "menuruni". 

Untuk frasa "anak tangga" bukanlah terjemahan dari kata "steps". Frasa ini adalah informasi tambahan yang diberikan oleh penerjemah. Kata "steps" diterjemahkan sesuai dengan makna sebenarnya yaitu "langkah", sehingga untuk kata ini tidak mengalami pergeseran unit ketika diterjemahkan.

2. Chimneys was a historic place.
Chimneys adalah sebuah rumah kuno yang bersejarah.

Kata "place" diterjemahkan ke "rumah kuno". Hasil terjemahan ini menunjukkan adanya pergeseran unit dari kata ke frasa.

3. She sighed now, heavily.
Kini dia menarik nafas panjang.

Pada potongan kalimat di atas, kata "sighed" diterjemahkan ke frasa "menarik nafas". Ini menunjukkan adanya pergeseran unit. 

4) Intra-System Shift (Pergeseran Intra Sistem)

Pergeseran akibat aturan tata bahasa yang berbeda antara source language dan target language, seperti article (a atau an) yang bermakna sebuah atau seorang dan article (the) yang bermakna itu, sang atau -nya, seringkali tidak diterjemahkan ke dalam kalimat bahasa Indonesia. Aturan tata bahasa lain antara bahasa Indonesia sebagai target language dan bahasa Inggris sebagai source language, seperti pergeseran singular noun menjadi plural noun atau sebaliknya.
 
Faktanya, penerjemahan plural noun ke singular noun atau sebaliknya merupakan kesalahan dalam penerjemahan. Akan tetapi, ini sering dianggap sebagai hal yang lumrah karena kebiasaan para pengguna bahasa Indonesia.

Contoh:
1. Jimmy yawned and strolled slowly down to the lake. 
Jimmy menguap dan berjalan perlahan ke arah danau.

Article "the" pada kalimat tersebut tidak diterjemahkan ke kata "sebuah".

2. Mrs. Meggy gave cookies to a boy.
Bu Meggy memberi kue ke seorang anak-anak.

Kata "cookies" yang merupakan kata benda jamak (plural noun) diterjemahkan ke kata benda tunggal (singular noun) dan kata "boy" yang merupakan kata benda tunggal diterjemahkan ke kata benda jamak.

3. As a young girl she had been a jolly flamboyant creature, very much in love with Oswald Coote.
Ketika masih gadis, dia adalah seorang gadis periang yang jatuh cinta pada Oswald Coote.


Pada main clause terdapat dua article "a", tetapi article "a" yang pertama tidak diterjemahkan ke "seorang" karena penerjemah bermaksud untuk menghindari pemborosan kata akibat penerjemahan article "a" yang kedua. Ini termasuk pergeseran intra sistem.

Komentar

Populer Minggu Ini

Menilai Kepribadian Manusia Berdasarkan Tatapan Mata

Cara Menghitung Perbedaan Waktu (WIB, WIT, WITA Dan GMT)

4 Metode Penerjemahan Brislin dan 3 Metode Penerjemahan Dryden

Persen Dan Permil

Gerak Melingkar (Lintasan Miring, Bidang Vertikal, Di Atas Bukit Dan Lembah), Gaya Normal Dan Tegangan Tali

Penggunaan Enough, Quite, Pretty, Rather Dan Fairly

Hambatan Shunt Dan Hambatan Muka Atau Depan

Penggunaan Beyond, Be, Become, By, Out Of dan Ahead

Jembatan Wheatstone, Jembatan Wien, Jembatan Kelvin, Jembatan Maxwell, Jembatan Hay dan Jembatan Schering

Analisis Sintaksis Dan Tree Diagram Syntax